Back

Pembelajaran Berbasis Proyek Lintas Program Studi

Proyek musikalisasi drama ini merupakan bagian dari mata kuliah Bahasa Indonesia dengan dosen pengampu Hendri Pramadya, M.Hum dan Fenny Damayanti, M.M., yang dirancang sebagai pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Setiap tim melibatkan sekitar 40 mahasiswa lintas program studi, yaitu: Program Studi Manajemen, Program Studi Sekretari, Program Studi Informatika, Program Studi Rekayasa Logistik, dan Program Studi Sains Data.
Persiapan dimulai sejak akhir Oktober 2025, melalui proses diskusi, pembagian peran, latihan intensif, hingga gladi bersih. Puncak dari rangkaian proses tersebut diwujudkan dalam penampilan pada Sabtu, 20 Desember 2025 di aula Universitas Taruna Bakti (kampus 1).
Mahasiswa tidak hanya tampil sebagai pemeran di atas panggung, tetapi juga terlibat aktif sesuai dengan minat dan talentanya masing-masing, seperti menjadi sutradara, produser, penulis naskah, koreografer, penata musik, tim logistik, dekorasi, desain, media sosial, audio, didukung sound dan lighting. Proyek ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menemukan peran, belajar bertanggung jawab, dan bekerja sama dalam skala besar.
Dampak Nyata bagi Mahasiswa: dari proses yang dijalani, terlihat perubahan positif pada mahasiswa. Beberapa orang tua yang hadir menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih karena anak-anak mereka yang sebelumnya cenderung pasif dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sejak adanya proyek ini menjadi lebih aktif datang ke kampus untuk latihan dan berinteraksi dengan teman-temannya. Proses panjang ini dijalani dengan antusiasme, rasa memiliki, dan komitmen yang tinggi. Dari bangku penonton, terlihat jelas kerja tim yang solid, saling membantu, dan saling menguatkan demi memberikan penampilan terbaik bagi penonton.

Tiga Cerita, Tiga Pesan Bermakna:

1. Ilusi di Batas Takdir
Pertunjukan pertama berjudul Ilusi di Batas Takdir, mengangkat kisah seorang anak perempuan bernama Raya yang hidup dalam lingkar pertemanan yang penuh perundungan. Di tengah keterpurukan perasaannya, hadir sosok Bintang, sahabat masa kecil yang selalu menemani, menguatkan, dan membantu Raya bangkit dari luka batinnya. Seiring berjalannya cerita, penonton diberikan surprise bahwa sosok Bintang sebenarnya sudah tidak ada. Namun kehadirannya terasa begitu nyata dalam perjalanan penyembuhan Raya. Dialog saat perpisahan mereka sungguh mengena. Bintang pergi saat Raya sudah kuat dan mandiri. Narasi yang kuat, akting yang berkesan, serta dukungan musik yang tepat di setiap adegan membuat cerita ini terasa sangat emosional dan meninggalkan kesan mendalam.

2. Kian Santang
Cerita kedua, Kian Santang, mengisahkan seorang anak yang dengan penuh bakti dan kepatuhan kepada orang tua serta negerinya, bersedia menumpas pemberontakan yang terjadi di kerajaan. Keikhlasan sang istri melepas suaminya ke medan perang meskipun mereka baru saja menikah, menjadi simbol kesetiaan, pengorbanan, dan cinta yang tulus. Selama Kian Santang berperang, sang istri bersemedi dan memanjatkan doa demi keselamatan suaminya. Adegan pertempuran ditampilkan dengan intens dan terasa riil, didukung perpaduan musik modern dan tradisional yang membangun suasana mencekam. Dari bangku penonton, emosi dan ketegangan terasa kuat. Akhirnya doa sang istri dan kedua orang tua mengantarkan Kian Santang kembali dengan kemenangan.

3. Jalan Pulang
Sebagai penutup, cerita Jalan Pulang menyuguhkan kisah Aksara, seorang anak yang merantau ke kota untuk menempuh pendidikan. Di tengah perjalanan hidupnya, bisikan jahat dalam dirinya dan pengaruh lingkungan membawanya terjerumus ke dalam dunia gelap. Konflik batin Aksara antara suara kebaikan dan bisikan jahat disajikan dengan kuat, hingga akhirnya membawa Aksara pada ajal akibat overdosis. Setiap adegan dieksekusi dengan tepat, konflik dibangun secara bertahap, dan pesan moral disampaikan dengan jelas. Cerita ini menjadi refleksi mendalam bagi penonton tentang pilihan hidup, pengaruh lingkungan, dan makna pulang, baik secara fisik maupun batin. Suguhan tarian kontemporer di sela adegan membuat experiential watching menjadi semakin terbangun.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia, kami menyaksikan langsung bagaimana proyek musikalisasi drama ini menjadi ruang tumbuh bagi mahasiswa. Mereka belajar, berproses, berkomunikasi, dan bertanggung jawab dalam proyek besar lintas program studi. Di balik kelelahan, terlihat kebahagiaan karena merasa dipercaya dan dilibatkan sepenuhnya. Inilah pembelajaran yang tidak hanya mengasah kemampuan berbahasa dan berkarya, tetapi juga membentuk karakter, empati, dan kesiapan menghadapi dunia nyata (dunia kerja) kelak saat mereka lulus.
Proyek musikalisasi drama ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan wujud nyata proses belajar yang holistik. Mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama lintas disiplin, mengelola emosi, beradaptasi dengan perubahan, serta bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Dengan tata panggung, pencahayaan, musik, dan eksekusi adegan yang ditata dengan baik, setiap cerita tampil utuh dan bermakna. Apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh mahasiswa yang telah mencurahkan tenaga, waktu, dan komitmen untuk menghadirkan tontonan terbaik bagi penonton. Inilah pembelajaran Bahasa Indonesia yang tidak hanya dipahami, tetapi dipraktikkan secara langsung.

Penulis: Fenny Damayanti, M.M.